Inspirasi memang bisa datang darimana saja
Kali ini inspirasi tulisan saya datang dari perjalanan pulang kampung saya

(Entah kenapa, setiap berperjalanan dengan bus, saya selalu punya banyak waktu untuk berpikir tentang hal-hal inspiratif, ide-ide cemerlang, atau bahkan introspeksi diri, dan rencana-rencana masa depan)
Setelah 19 jam perjalanan dan dua jam lagi menuju tujuan, saya akhirnya mengobrol banyak dengan penumpang sebangku saya. Bukan artinya kita diem-dieman selama 19jam, dia lebih suka duduk berpindah-pindah ke korsi belakang karena memang ada yang kosong, duduk ke bagian supir untuk sekedar mengobrol dengan sang supir dan kernetnya, atau seringnya dia lebih suka mengobrol dengan bapak-bapak dan ibu-ibu dibangku lainnya. Tentunya itu juga karena saya lebih suka tidur selama perjalanan daripada mengobrol dengan orang tak dikenal.
Dia seorang bapak berumur kira-kira 45tahun. Dari hasil obrolan saya jadi tau dia seorang kontraktor, dia baru saja dari jakarta dan bandung untuk sebuah proyek perbaikan kereta api. Dia asli orang padang, tapi lidahnya sudah cukup kental dengan logat palembang. Saya ga sempat tanya siapa namanya. Tapi selama perjalanan dia orang yang cukup supel dan selalu mengobrol hangat dengan lawan bicaranya.
Dia akhirnya tau saya fresh graduate S1 dari ITB dari jurusan teknik mesin. Dari sinilah obrolan menarik pun dimulai.
Pertama, dia langsung mengomentari lulusan S1 yang tidak siap pakai. Menurutnya kemampuan para lulusan S1 saat ini kalah jauh dengan para lulusan STM ataupun diploma. Dalam pikirannya sangat meyakini kalau lulusan S1 teknik mesin seperti saya seharusnya sangat menguasai tentang mesin-mesin otomotif dan lain-lain. Dia membandingkan pengalamannya ketika bekerja di perusahaan kereta api. Para insinyurnya bahkan tidak bisa membuka baut roda-roda kereta. “Masa kalah ama mekaniknya yang lulusan STM?, Harusnya kan malu kalah ama bawahan”. Saya rasanya ingin sekali segera membalas argumennya. Emangnya kita dididik jadi mekanik apa selama kuliah? Dia juga bilang kalau lulusan S1 terlalu banyak belajar teori, tapi ketika masuk dunia kerja mereka tidak bisa apa-apa. Pengalamannya selama 30 tahun di dunia mekanik membuat saya bersabar dan mengambil hikmah akan keluhannya tentang para lulusan sarjana S1. Kemudian mempertanyakan kenapa hal-hal ini bisa terjadi. Saya akhirnya membalas argumennya (sebenernya lebih ke pembelaan diri sih). Menurut hasil pengalaman saya ketika kerja praktek dan cerita-cerita para alumni saya lalu bercerita kalau kami lulusan S1 memang tidak dididik menjadi seorang mekanik yang mahir dalam hal-hal teknis. Kami belajar tentang konsep sebuah sistem, kami belajar tentang efisiensi, kami belajar cara kerja secara global tiap-tiap mesin yang umumnya dipakai didunia industri. Sangat wajar bila lulusan S1 seperti kami kalah pengalaman dengan para mekanik yang telah malang melintang di dunia mekanik. Saya juga menjelaskan teknik mesin tidak selalu identik dengan bengkel, mobil, bensin, solar dan sejenisnya. Kami belajar juga tentang materialnya, perancangannya, produksinya, hingga konversi energi didalamnya. Namun si Bapak tetap merasa seharusnya sarjana S1 harus mampu siap pakai didunia kerja, jangan hanya duduk dibelakang laptop, tetapi tidak tau apa yang terjadi di lapangan. Saya pun akhirnya setuju dengan argumen tersebut. Sudah selayaknyalah memang para lulusan S1 juga turun dalam hal-hal teknik di lapangan agar lebih mengetahui masalah-masalah di lapangan. Saya juga mengakui di dunia pendidikan sarjana, pemahaman akan hal-hal seperti ini dirasa kurang. Walau saya juga tidak berharap para calon sarjana S1 dididik layaknya para siswa STM atau mahasiswa diploma yang memang mahir dalam dunia teknik praktis. Saya merasa seharusnya dosen-dosen lebih menggmbarkan keadaan di lapangan kerja seperti apa, mendatangkan para pekerja-pekerja lapangan dan membagi pengalamannya. Sehingga para lulusan S1 seperti saya yang minim pengalaman kerja ini tidak shock ketika masuk dunia kerja dan berhadapan dengan orang-orang seperti si Bapak yang tidak peduli dengan proses kita di dunia pendidikan. Mereka hanya berharap kita para lulusan S1 memang mampu memberikan kontribusi signifikan ketika masuk dalam sebuah perusahaan. Akhir kata, si Bapak memberi nasihat, ini merupakan tantangan bagi para generasi muda saat ini. Dunia kuliah sangat jauh berbeda dengan dunia kerja. Para sarjana seharusnya menyiapkan diri sebaik mungkin dan yang paling penting adalah selalu rendah hati untuk selalu mau untuk mempelajari hal-hal baru. Tidak semua yang kita pelajari di dunia kuliah terpakai di dunia kerja, kita mungkin akan mempelajari hal-hal baru yang belum pernah kita pelajari sebelumnya, namun tuntutan buat kita tetap tinggi, no excuse i think. Satu pesan lagi, si Bapak juga berpesan, seharusnya para lulusan sarjana bukan menjadi pencari kerja, tetapi justru menyediakan lapangan kerja. Bila semua lulusan terbaik negeri ini menjadi pencari kerja, kapan bangsa ini bisa merdeka, yang kaya akan makin kaya, yang miskin akan tetap miskin.
Terimakasih pak, saya akan menjawab tantangan bapak, saya cinta negeri ini, saya juga akan buktikan kalau saya memang layak menjadi seorang sarjana teknik mesin, dan saya akan menciptakan lapangan kerja suatu saat nanti. Amin.

Komentar Terakhir